"Buka lembar baru micro finance Indonesia. Kredit adalah hak asasi setiap manusia termasuk mereka yang miskin," kata Yunus.
Ia menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan rombongan KADIN yang dipimpin Wakil Ketua Umum bidang UMKM dan Koperasi Sandiaga S. Uno. Rombongan Kadin mengunjungi Bangladesh selama 3 hari.
Tantangan tersebut disambut baik rombongan KADIN mengingat 51 juta unit usaha mikro di Indonesia belum tersentuh kredit karena tidak adanya lembaga pembiayaan yang serius menggeluti skema microfinance yang sesuai dengan topografi penduduk di Indonesia.
Sandiaga Uno menjelaskan, saat ini Kadin secara serius sedang mempersiapkan program pemberdayaan UMKM dan koperasi dengan memobilisasi mikro kredit melalu jaringan lembaga keuangan mikro non-perbankan yang jauh lebih fleksible, efktif dan efisien.
"Pengembangan mikro kredit bukan saja butuh mekanisme baru di luar sistem perbankan. Yang dibutuhkan adalah mentalitas baru dari setiap pemangku kepentingan dalam hal ini KADIN, pemerintah selaku pembuat kebijakan dan para pengusaha mikro," kata Sandiaga Uno dalam penjelasannya kepada detikFinance, Minggu (9/8/2009).
Menurutnya, platform pembiayaan mikro baru Indonesia akan menjadi pilar penting dalam roadmap Kadin khususnya untuk pemberdayaan UMKM dan koperasi yang akan rampung Oktober 2009.
"Kuncinya adalah kesempatan bagi setiap pengusaha mikro untuk mendapatkan akses kredit. KUR sudah cukup baik namun belum secara cepat menjangkau segmen terpenting dan terbanyak dari usaha mikro yaitu mereka yang betul-betul miskin secara keuangan dan kemampuan. Kredit mikro adalah bentuk intervensi bersama antara pengusaha, pemerintah dan akademisi untuk memberantas kemiskinan," tambah Sandi.
Sandi menambahkan, kredit mikro yang dibutuhkan bukan saja yang tidak membutuhkan kolateral atau jaminan aset, melainkan juga yang tidak mencekik bunganya. Selama ini banyak bentuk kredit tanpa agunan tapi bunganya yang tinggi menyebabkan kredit ini tidak bisa dijangkau oleh pengusaha kecil apalagi mikro.
"Sekilas risikonya lebih tinggi. Namun setelah didalami ternyata risiko tersebut menjadi rendah karena sinergi peminjam dan deposan dan kolaborasi kolektif antara pengusaha mikro dan konsumennya yang juga berasal dari kalangan menengah ke bawah. Yang penting untuk digarsibawahi bukan saja tinggi atau rendahnya risikonya, melainkan bagaimana meringankan dan menangani risiko tersebut sehingga feasible untuk semua pihak,"urai Sandi.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yunus berjanji akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat untuk memberikan dukungan teknis terbentuknya apex lembaga keuangan mikro di Tanah Air. Mekanismenya tentu harus disesuaikan dengan topography budaya dan peta usaha mikro dan koperasi di Indonesia.
(qom/qom)

0 comments:
Posting Komentar