News Indonesia,SLAMET Riyadhi (58), salah satu korban pemutusan hubungan kerja (PHK), berhasil keluar dari kesulitan ekonomi. Dengan kreativitas tinggi, dia mengolah limbah menjadi tas-tas cantik bernilai tinggi.
Limbah pasta gigi digunting-gunting menjadi persegi panjang. Selanjutnya dikumpulkan dan disambung satu per satu menjadi lembaran panjang.
Di tangan Slamet Riyadhi, limbah yang terbuat dari alumunium foil itu bisa menjadi bahan baku untuk membuat aneka tikar sajadah dan tas yang cantik. Tidak heran setelah mendapat sentuhan kreativitas, bahan yang tidak berharga itu menjadi produk ekonomi yang bernilai tinggi.
"Awalnya limbah tersebut saya peroleh gratis. Tapi, lama-lama setelah banyak yang memanfaatkan, limbah itu menjadi komoditas yang laris diperjualbelikan," ujar Slamet Riyadhi, pemilik rumah industri di bawah bendera Lumintu kepada Warta Kota di sela-sela mengikuti sebuah pameran di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, pekan lalu.
Usaha kreatif yang didirikannya pada tahun 1998 dengan nama Lumintu itu sangat inspiratif. Saat mulai usaha, Slamet tidak pakai modal. Sebab, Slamet memperoleh limbahnya secara gratis. Dia memperoleh limbah dari pabrik yang memanfaatkan alumunium foil untuk kemasan produknya. Pihak pabrik juga berterima kasih karena limbahnya ditampung.
Sementara nama Lumintu adalah singkatan yang punya makna dahsyat, yakni, 'Lumayan Itung-itung Nunggu Tutup Umur'. Maklum, komunitas 84 perajin yang digerakkan Slamet di Kemuning Sudimara, Pinang, Kota Tangerang, rata-rata ibu-ibu rumah tangga dan ibu-ibu usia lanjut. Di situlah keunikan lainnya, Slamet mampu membuat nenek-nenek tetap produktif.
Tidak heran karena keunikan itu, Slamet sering mendapat penghargaan atau diundang dalam acara kenegaraan di Istana dan mendapat liputan gratis dari media massa.
Slamet mengakui, banyak keuntungan yang diperolehnya dengan mengusung tema lingkungan hidup, apalagi saat kampanye global warning gencar dilakukan sejumlah komunitas dan masyarakat pencinta lingkungan hidup seperti saat ini.
Dikatakan, saat ini produksi Lumintu mencapai 300 sampai 500 tas per bulan dan 300 tikar sajadah per bulan. Khusus tikar sajadah dikerjakan oleh ibu-ibu usia lanjut. Sedangkan tas dikerjakan anak- anak muda.
"Tapi, kami enggak mau memaksakan target produksi kepada ibu-ibu, terserah mereka menyesuaikan sesuai kemampuan. Kita memakai sistem borongan. Syukur, konsumen bisa memahami itu.
Soal harga? Rata-rata konsumen tidak rewel. Mereka menyadari dengan membeli produk kami berarti mendukung program lingkungan dan pemberdayaan ibu-ibu lanjut usia," ujar Slamet.
Pantang menyerah
Usaha daur ulang yang dibangun Slamet juga tidak langsung besar. Semuanya berproses, mulai dari kecil, tumbuh dan menang seperti sekarang. Slamet merasakan bagaimana rasanya berkeringat saat berdagang di emperan.
"Saya bertahun-tahun dagang di emperan Masjid Istiqlal, Parkir Timur Senayan dan tempat-tempat keramaian lainnya," ujar Slamet yang merasakan pahitnya di-PHK dari tempat kerjanya tahun 1996.
Namun, kata Slamet, sejak awal dia menyadari tidak boleh menyerah dengan keadaan. Entrepreneur harus memiliki jiwa pantang menyerah. Selain itu, katanya, kita harus kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar kita.
"Dari situ lah muncul ide usaha, bagaimana memanfaatkan keterampilan perajin di Pinang yang sedang kesulitan mendapat bahan baku pandan dan di sisi lain memanfaatkan limbah alumunium foil agar tidak terbuang percuma," ujar penerima penghargaan dari badan PBB, Unesco tahun 2004, berkat jasa-jasanya memberdayakan masyarakat.
Usaha Slamet mulai memperlihatkan titik cerah saat produknya dijadikan contoh untuk proyek pemanfaatan limbah yang dikerjakan BPPT dan Pemerintah Kanada.
"Saya ketemu orang BPPT ketika berdagang K-5 di Parkir Timur Senayan. Semua produk saya diborong orang Kanada itu. Lalu, saya diperkenalkan dengan orang Kementerian Lingkungan Hidup. Dari situ saya sering diajak pameran. Pameran pertama saya adalah saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Tahun 2002 di JCC," ujar Slamet.
Menurutnya, pameran efektif untuk mempromosikan produk daur ulangnya. Terbukti, masyarakat jadi menghargai hasil karyanya dan para ibu lanjut usia. Apalagi, setelah media massa sering meliput kegiatan usahanya. "Saya sangat senang dengan kemajuan usaha ini. Sebab, di sini saya tidak sekadar mencari uang tapi juga menjalankan misi sosial, yakni, memberdayakan masyarakat," tambahnya.
Lewat usaha ini, Slamet senang karena bisa menjadikan ibu-ibu lanjut usia menjadi manusia mandiri. Artinya, mereka bisa membeli baju sendiri atau memberi jajan untuk cucunya. "Dengan bekerja, mencegah lansia menjadi pikun karena syaraf motoriknya bergerak terus," kata Slamet. Usaha yang dibangun Slamet sekali lagi membuktikan bahwa limbah bisa menjadi tambang emas bagi pebisnis dan masyarakat. (Herry Sinamarata/wartakotalive.co.id)
| BIODATA |
| Nama lengkap: Slamet Riyadhi Tempat/tgl lahir: Cirebon, 21 September 1951 Pendidikan: SMA Muhammadiyah tahun 1970 Nama istri: Ny Musi Slamet Riyadhi Keluarga: Empat anak; tiga cucu Nama usaha: Lumintu Produk: Tas-tas, tikar sejadah, bunga dari limbah alumunium foil Alamat Luminta Galeri: Jalan KH Hasyim Ashari, Kemuning Sudimara Pinang, Pinang, Kota Tangerang Telp/HP: 021-91743546 dan 085714815834 |

0 comments:
Posting Komentar