Rabu, 14 April 2010

Pembongkaran Makam Mbah Priok, Tangan Dua Aparat Putus

Jakarta, News Indonesia

Dua orang petugas Satuan Polisi Pamong Praja tangannya putus akibat terkena sabetan senjata tajam dari massa yang menolak pembongkaran makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad atau yang dikenal sebagai Makam Mbah Priok, Jakarta Utara, Rabu (14/4).

Tangan petugas Satpol PP yang belum dapat diketahui identitasnya itu putus di sebelah kiri. Selanjutnya, anggota Satpol PP lainnya langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Koja.

Bentrok pecah karena makam yang berada di atas lahan 5,4 hektar ini akan dibongkar karena dianggap berada di lahan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Areal itu rencananya dijadikan sebagai lahan untuk pembangunan jalan tol, kanal, serta terminal peti kemas.

Santri dan warga tidak percaya kalau makam ini milik PT Pelindo. Sebab, makam yang berada di area masjid sudah ada di sana sejak 19 Desember 1934.  Bahkan, menurut pengacara pihak Mbah Priok, areal ini telah memiliki sertifikat yang dikeluarkan pada zaman Belanda dulu.

Itu sebabnya, warga menolak keras upaya pembongkaran. Mulai pukul 06.30 WIB, massa yang jumlahnya tidak mencapai 100 orang itu turun untuk menghadapi sedikitnya 3.000 anggota Satpol PP yang akan mengeksekusi.

Aksi saling lempar batu tidak terelakkan. Pendukung makam Mbah Priok terus melawan. Pada awalnya, ribuan Satpol PP terus meladeninya. Tetapi belakangan, petugas mundur secara teratur setelah mulai jatuh korban.

Belasan anggota Satpol PP terluka akibat terkena bola api, petasan, batu, dan sabetan senjata tajam yang dibawa massa pendukung makam yang sangat dihormati itu. Korban bukan hanya di pihak Satpol PP, sejumlah pendukung makam juga terluka akibat lemparan batu dari petugas Satpol PP.

Menurut pengakuan salah satu petugas Satpol PP, walau jumlah massa pendukung makam tidak sampai seratus orang, mereka kebal. Mereka hanya luka ringan. Sementara sebagian petugas menderita luka serius, bahkan helm yang dikenakan petugas sampai ada yang pecah.

Sebagian petugas Sapol PP percaya, ada kekuatan tertentu yang ikut membentengi makam. Sebab, petugas mengalami kesulitan untuk masuk. Bentrok fisik baru mereda setelah polisi turun tangan. Mereka berusaha memisahkan kedua pihak yang beradu fisik itu.

Sampai akhirnya, muncul inisiatif untuk menunda pembongkaran dan berunding. Perundingan dilakukan di salah satu kantor di komplek pemakaman. Rapat dihadiri perwakilan dari Pemerintah Jakarta Utara, pengacara pihak makam Mbah Priok, dan habib.

Sementara itu, di luar komplek, bentrok fisik sudah reda dan polisi melakukan penyisiran terhadap warga yang membawa senjata tajam. Yang kedapatan membawa senjata, petugas langsung menyitanya. (Vivanews/tvone)

0 comments:

Posting Komentar

 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template