Senin, 07 September 2009

Agnes Tandia, Yang Muda Yang Berkarya

Yang muda yang berkarya. Sebutan ini pantas disandang Agnes Tandia, yang sukses memanfaatkan kain-kain tradisional menjadi barang-barang seperti jaket dan sepatu yang dapat dipakai khusunya oleh kalangan muda. Padahal usianya baru 21 tahun lho.

Perempuan asal Bandung, Jawa Barat ini memang menekuni kain-kain tradisional, sesuai studinya di jurusan Kriya Tekstil yang diambilnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana dia mengenai filosofi kain-kain tradisional, dan membuatnya tertarik memproduksi barang dari bahan dasar kain tradisional.

Awalnya Agnes hanya membuat jaket dan sweater yang dapat dipakai bolak balik. Bagian depan karyanya polos tanpa motif, namun di bagian dalam bermotif batik. “Setelah penjualan jaket lumayan, akhirnya aku punya kain perca batik banyak sisa pembuatan jaket. Dari situ aku mulai coba-coba bikin sepatu,” ungkapnya saat dihubungi Warta Kota, Rabu (19/8).

Selain batik, kain tradisional yang dipakai oleh Agnes adalah songket, dan kain sasirangan dari Kalimantan. Agnes mengaku bahwa semua produknya dia sendiri yang mendesain, namun untuk pembutan dia serahkan pada perajin sepatu dan jaket karena dia belum memiliki karyawan sendiri.

Promosi sepatu buatannya dilakukan dari mulut ke mulut , kemudian banyak media massa yang meliput. Dampaknya manis, penjualan sepatunya terus meningkat dari hari kehari.

“Dalam sebulan omzet penjualan minimal 100 pasang sepatu, dan per harinya ada 10 pasang yang terjual,” tuturnya.

Agnes sendiri takjub dengan respons masyarakat terhadap hasil karyanya. Pembeli justru datang dari luar Bandung, yakni 40 persen dari Jakarta, 20 persen Malaysia, dan sisanya tersebar ke seluruh Indonesia. “Aku nggak sangka ada pembeli yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan aku sempat ekspor ke Belanda,” katanya.

Selain sepatu, Agnes juga mendesain sandal, dan tas. Semua hasil karyanya ini dia beri merek Kulkith. Nama itu diambil dari konsep yang diusungnya, yakni modern dan tradisional.

“Asal namanya dari “cool” dan “kid”. Karena saya dari Sunda jadi saya lafalkan kulkith,” ungkapnya.

Penjualan Kulkith hnya dilakukan secara online situs jaringan sosial Facebook, dengan nama just kulkith, karena Agnes masih sibuk menyusun tugas akhir kuliah. “Dalam waktu dekat ini website Kulkith akan segera dibuka kok,” katanya.

Agnes mengaku dia serius pada bisnisnya ini, karena selain omzetnya yang lumayan, misinya mengolaborasi modern dan tradisional pun tersampaikan dengan baik. “ Aku berharap kain-kain tradisional yang berkesan formal bisa dipakai dengan manisnya oleh kalangan muda-mudi yang biasanya kurang appreciate dgn budaya lokal,” tandasnya. (Fallin

0 comments:

Posting Komentar

 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template