Tampilkan postingan dengan label Inpirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inpirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2009

Membuat Kerupuk Udang Enak & Sehat

Kerupuk memang bagian yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi masyarakat Indonesia. Dan hampir setiap orang menyukai kerupuk, selain rasanya yang enak harganya juga relatif terjangkau. Secara umum kerupuk adalah bahan kering yang berupa lempengan tipis yang terbuat dari bahan baku seperti ikan, kulit dan dapat juga berasal dari udang.

Akan tetapi saat ini begitu banyak kerupuk yang menggunakan bahan-bahan pangawet yang tidak diizinkan atau membahayakan konsumen, seperti penggunaan boraks. Padahal untuk pembuatan semua jenis kerupuk sama sekali tidak memerlukan bahan pengawet dalam pembuatannya.

Continue Reading

Bisnis Oleh – oleh “Kagak Ada Matinye”

Tiada habis-habisnya cemilan dan makanan khas berbagai daerah di Nusantara jadi ‘tambang’ bisnis. Dari yang tradisional hingga hasil eksperimen baru dan masih banyak peluang yang bisa digali.

Semangat untuk mengali makanan khas tradisional ini, selain dipelopori oleh perusahaan berskala besar, eksposur media televisi terhadap hal ini ikut mendukung. Ambil contoh, pada 29-30 Juni lalu di Jakarta digelar hajatan ‘Festival Jajanan Banggo 2007′. Acara ini menghadirkan sekitar 50 pedagang dengan racikan menu makanan yang istimewa. Di sini pengujung dapat menyicip aneka makanan tradisional Nusantara, bahkan yang nyaris punah.Termasuk makanan khas Betawi seperti Gabus Pucung atau soto tangkar dan sate kuah khas H.Diding(almarhum).

Jakarta merupakan kota ketiga sebagai ajang gelaran Festival Jajanan Banggo 2007. Sebelumnya festival serupa sukses di langsung di Bandung dan Surabaya. Setelah Jakarta, festival akan menyambangi Medan, Sumatra Utara. Saat festival serupa di langsungkan di Bandung, transaksi para pedagang dengan pengunjung mencapai Rp 500 juta, demikian juga ketika berlangsung di Surabaya.

Menurut Heru Prabowo, Senior Brand Manager Kecap Banggo, pihaknya ingin mengajak masyarakat untuk tidak melupakan aneka masakan tradisional. “Sayangnya keberadaan makanan tradisional ini terdesak oleh hadirnya masakan impor. Dalam ajang ini kita dapat memperkenalkan salah satu kekayaan Nusantara terutama makanannya,” ujar Heru Prabowo, dalam jumpa pers dengan sejumlah media di Jakarta 21 Juni lalu, yang juga dihadiri Maria Dwianto, External Communication Manager Unilever.

Kekayaan Nusantara dalam bentuk makanan dapat juga terlihat dari bisnis oleh-oleh di hampir semua kota-kota di Indonesia. Menurut Bondan Winarno, salah satu pengamat kuliner terkemuka di Tanah Air, Indonesia mempunyai budaya yang mendukung dalam hal ini. Yakni kebiasaan membawa ‘buah tangan’ berupa makanan apabila berkunjung di suatu tempat. “Pengalaman saya dalam mengunjungi kota-kota di Indonesia,rata-rata mempunyai oleh-oleh yang khas di daerah itu, “tutur Bondan dan mempunyai potensi bisnis yang sangat besar.

Fakta memang mendukung hal ini.Sejumlah pengusaha terkemuka di Tanah Air telah berkembang dan membesar dari bisnis oleh-oleh. Bahkan bisnis oleh-oleh yang kemudian menjadi Industri bisa mengangkat pamor kota penghasil oleh-oleh tersebut. Contoh klasik, adalah dodol Garut. Salah satu pentolannya adalah H.Elli Rahardja yang merintis pendirian dodol Sarinah. Kini produksi dodol itu sudah mencapai 1 ton dodol per hari. Di Garut sendiri ada sekitar 85 perusahaan penghasil dodol dengan total produksi sekitar 4000 an dodol telah ikut mengharumkan nama Garut. Dodol Picnic, salah satu dodol yang terkemuka di Garut, telah membuat nama kota ini mencorong di dunai sport Tanah Air dengan mensponsori klub balap sepeda.

KAGAK ADE MATINYE

Memang belum angka pasti seberapa besar bisnis oleh-oleh sebagai bagian dari industri (makanan). Namun kalau pertumbuhannya dapat disejajarkan dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman, dapat dikatakan bisnis oleh-oleh masih membuka peluang yang besar. Menurut data, industri makanan dan minuman di targetkan tumbuh 8% pada tahun ini. Tahun lalu industri ini tumbuh 7,22%, penjualan industri makanan dan minuman tahun 2007 ditargetkan Rp 140,6 triliun sementara pada tahun 2006 Rp 130,2 triliun. Sumbangan industri ini terhadap PDB Non migas tak bisa di anggap sepele, yaitu mencapai 27,55%.

Angka bisnis oleh-oleh tentu jauh dari angka industri itu. Namun berkaca dari eksistensinya di berbagai daerah, Bondan melihat potensinya sangat besar. “Sayangnya, saya harus berkali-kali mengatakan, Pemerintah tak punya perhatian dalam hal ini,” kata dia. jika melihat daya tahannya baik sebelum dan sesudah krisis, juga dapat menghadapi gempuran makanan dari luar, sebenarnya makanan khas daerah termasuk oleh-oleh, telah menunjukkan ketangguhannya. Bisnis ini bahkan dapat dikatakan sebagai bisnis yang kagak ada matiye.

Hal ini terjadi karena dari sisi permintaan, bidaya Indonesia yang menempatkan oleh-oleh sebagai sebuah kebutuhan. Sementara bagi mereka yang berada di kota besar, kerinduan pada daerah asal juga ikut menciptakan permintaan. Tak perlu diherankan bila selain memunculkan usaha yang mengkhususkan diri pada produksi satu jenis oleh-oleh tertentu, ia juga memunculkan usaha perantarannya, yakni toko-toko yang menjual aneka oleh-oleh dari berbagai daerah.

Dari sisi penawaran, bisnis oleh-oleh dapat dikatakan kagak ade matinye antara lain karena sifat alami industri itu sendiri. Hampir dapat dikatakan usaha oleh-oleh tidak mempunyai barrier to entry, sama seperti usaha makanan pada umumnya. Hampir tidak ada hambatan berarti untuk bisa masuk usaha ini sehingga menyebabkan persaingan sangat ketat.

Dari persaingan yang ketat itu kemudian muncul inovasi, dalam inovasi produk misalnya, Bondan melihat ada dua kecenderungan.Pertama, persinggungan industri oleh-oleh Indonesia dengan resep-resep luar telah memunculkan jenis-jenis oleh-oleh baru yang diminati. Ke dalam hal ini misalnya, bisa dijejerkan brownies kukus dari Bandung atau bolu kukus dari Medan. Brownies dan bolu sebetulnya bukan makanan khas Indonesia. Tetapi karena dibuat sesuai dengan lidah Indonesia plus dipopulerkan sebagai oleh-oleh, jadilah ia oleh-oleh khas kota pembuatnya.

Kedua,Persaingan diantara sesama pelaku industri plus dorongan berekspansi telah memunculkan inovasi lewat eskplorasi makanan asli Indonesia lalu memodifikasiknya. Bandeng Juwana di Semarang misalnya, tak lagi hanya memproduksi bandeng presto. Mereka juga memproduksi aneka oleh-oleh lain yang berbahan baku bandeng, mulai dari bandeng bakar, bandeng keju dan bandeng teriyak. Contoh lain, empuk durian yang berasal dari Riau, juga telah dibuat dengan berbagai aneka rasa, walau pun tetap berbasis durian.

Bersaman dengan inovasi pada produk, jalur pemasaran oleh-oleh juga makin banyak bentuknya. Memang ada juga yang masih memepertahankan jalur konservatif, semisal brownies kukus Amanda yang seluruh cabang-cabangnya di luar Bandung masih di kelola oleh keluarga. Namun, jalur non konvensional sudah banyak yang terbuka. Selain melalui sistem keagenan, sistem waralaba juga makin banyak diterapkan dalam bisnis oleh-oleh ini. Sementara untuk memperkuat jalur pemasaran juga sudah merambah dunia maya terlihat dari banyaknya toko-toko online yang menawarkan oleh-oleh khas daerah.

MASIH BANYAK YANG BISA DIGALI

Di luar oleh-oleh yang sudah populer dewasa ini, sesungguhnya masih banyak lagi jenis oleh-oleh tersebar di senatero Indonesia yang bisa membuka peluang bisnis. Di pulau Jawa saja, misalnya akan segera tampak warna-warni oleh-oleh yang punya fans masing-masing. Dari Purwokerto, misalnya ada kripik tempenya yang khas selain getuk goreng atau goreng belut. Dari Semarang ada roti Mandarin selain bandeng presto dan lumpia. Dari Bandung, jangan tanya lagi. Bejibun oleh-oleh dari sini,mulai dari pisang melon, kue susu, brownies kukus hingga yogurt.

Hanya saja, tantangannya juga tidak sedikit. Misalnya, banyak diantara produsen oleh-oleh khas itu justru enggan untuk berkembang atau menikmati usahanya sebagai bisnis rumahan saja. Sebuah usaha rumahan di Jawa Tengah, sudah seminggu tidak memproduksi oleh-oleh khas bikinan mereka yang terkenal, karena sang ayah menderita sakit. Artinya, produksinya masih sangat tergantung pada satu orang.

Tantangan lain yang bersifat teknis adalah dalam soal pengemasan. Salah satu prasyarat oleh-oleh adalah ia mestinya tahan lama dan praktis dibawa. Ada banyak makanan khas Indonesia yang sangat digemari tetapi karena terkendala dalam pengemasannya akhirnya tidak bisa berkembang sebagai oleh-oleh. Misalnya, Di Manado banyak sekali makanan yang enak, seperti kue klappertaart. “Tetapi karena tidak terlalu praktis untuk dibawa bepergian jauh, akhirnya ia tidak populer sebagai oleh-oleh dari Manado,” kata Bandon.

http://bisnisukm.com/bisnis-oleh-oleh-kagak-ade-matinye.html
Continue Reading

Peluang Usaha Minyak Atsiri

Berbicara masalah komoditi ekspor nonmigas, minyak atsiri dari nilam merupakan salah satu andalan. Bahkan negeri kita tercatat sebagai pengekspor minyak nilam terbesar di dunia. Meski populer di pasar internasional, anehnya minyak atsiri nilam kurang akrab di telinga kita. Apalagi masih sedikit yang mengenal sosok tanaman nilam dengan baik. Padahal ini peluang bisnis di masa depan.Nilam merupakan salah satu dari 150 – 200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 – 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial.
Continue Reading

Belajar Melihat Peluang Usaha

Yang saya alami sejauh ini adalah ketika saya mulai belajar bisnis internet maka rasanya mata menjadi lebih tajam dalam Melihat Peluang Usaha yang dapat digarap, peluang usaha yang sesuai dengan ketrampilan, selera, waktu dan dana tentunya. Dulu tidak begitu, walaupun peluang usaha sudah sangat dekat bahkan sudah di depan mata namum waktu itu saya sulit untuk melihat peluang usaha tersebut dengan jelas, apalagi menggarapnya.


Ternyata peluang usaha di internet ini banjir, bahkan mungkin terlalu banyak. Kita bisa menggarap peluang usaha bisnis pulsa menggunakan internet, bisa menggarap peluang usaha periklanan, juga jual website hosting, bisnis ilmu seperti bisnis bagi hasil ebook formula bisnis, sampai bisnis sederhana seperti klik iklan orang lain dapat duit (disebut PTC), dan masih banyak lagi.

Mari kita selalu belajar bisnis dan pertajam mata kita agar dapat melihat dengan jelas dan menggarap banyak peluang usaha cemerlang di internet ini.

http://peluangusahabisnis.net/belajar-melihat-peluang-usaha

Continue Reading

Peluang Bisnis Pulsa Tetap Menggiurkan

Saat ini berbisnis sudah banyak macamnya dan banyak pula caranya. Setiap tahun akan ada berbagai macam bisnis baru bermunculan. Seperti kita lihat beberapa tahun terakhir ini. Bisnis pulsa bak jamur yang tak akan pernah berhenti untuk tumbuh subur. Bisnis inipun memang benar-benar subur, bagaimana tidak?!!. Menurut data pemakaian pulsa oleh 110 juta orang Indonesia tahun 2010 (data terakhir sudah 120juta) dan 95% adalah pra-bayar yang memerlukan pulsa.

Coba lihat saja, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki HP, hampir semua lapisan dan semua umur memiliki barang ini. baik padagang eceran, pedagang besar, pedagang kaki lima, pengangguran, guru, mandor, profesor, mahasiswa, siswa, insinyur, sampai buruh baik dari anak-anak, remaja, dewasa maupun orang-orang tua hampir semua menggunakannya. Dan bisa juga dari satu orang memiliki barang ini lebih dari satu. Yang tidak boleh anda lupa semua pengguna itu akan membutuhkan pulsa untuk mengaktifkan HP mereka. Ini adalah pasar empuk untuk anda yang akan dan telah menjalankan bisnis pulsa.

Hal ini juga didukung dari perkembangan pesat industri telekomunikasi yang ada di Indonesia. Pelanggan industri telekomunikasi di dalam negeri pada tahun 2009 diperkirakan bakal melonjak 20% dari 75 juta menjadi 90 juta pelanggan.

Pasar industri telekomunikasi di dalam negeri sebenarnya masih besar. Hal tersebut terkait dengan perkembangan industri telekomunkasi di dalam negeri sejak beberapa tahun lalu tumbuh dengan pesat, karena para vendor telekomunikasi aktif mengembangkan usahanya. Lihat saja saat ini, dulu orang mengirim pesan melalui surat, sekarang lebih diminati kirim pesan lewat sms. Dulu telepon di wartel, sekarang dari HP.

Sekarang, setelah melihat fakta-fakta tersebut, masih ragukah anda untuk memulai bisnis ini?! terserah anda, ini akan menjadi sebuah pilihan anda dalam memulai bisnis mandiri.

Diolah dari berbagai sumber
(Sumber gambar: http://terminalbali.files.wordpress.com/2008/09/sponsor.jpg)

Continue Reading

Senin, 07 September 2009

Agnes Tandia, Yang Muda Yang Berkarya

Yang muda yang berkarya. Sebutan ini pantas disandang Agnes Tandia, yang sukses memanfaatkan kain-kain tradisional menjadi barang-barang seperti jaket dan sepatu yang dapat dipakai khusunya oleh kalangan muda. Padahal usianya baru 21 tahun lho.

Perempuan asal Bandung, Jawa Barat ini memang menekuni kain-kain tradisional, sesuai studinya di jurusan Kriya Tekstil yang diambilnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana dia mengenai filosofi kain-kain tradisional, dan membuatnya tertarik memproduksi barang dari bahan dasar kain tradisional.

Awalnya Agnes hanya membuat jaket dan sweater yang dapat dipakai bolak balik. Bagian depan karyanya polos tanpa motif, namun di bagian dalam bermotif batik. “Setelah penjualan jaket lumayan, akhirnya aku punya kain perca batik banyak sisa pembuatan jaket. Dari situ aku mulai coba-coba bikin sepatu,” ungkapnya saat dihubungi Warta Kota, Rabu (19/8).

Selain batik, kain tradisional yang dipakai oleh Agnes adalah songket, dan kain sasirangan dari Kalimantan. Agnes mengaku bahwa semua produknya dia sendiri yang mendesain, namun untuk pembutan dia serahkan pada perajin sepatu dan jaket karena dia belum memiliki karyawan sendiri.

Promosi sepatu buatannya dilakukan dari mulut ke mulut , kemudian banyak media massa yang meliput. Dampaknya manis, penjualan sepatunya terus meningkat dari hari kehari.

“Dalam sebulan omzet penjualan minimal 100 pasang sepatu, dan per harinya ada 10 pasang yang terjual,” tuturnya.

Agnes sendiri takjub dengan respons masyarakat terhadap hasil karyanya. Pembeli justru datang dari luar Bandung, yakni 40 persen dari Jakarta, 20 persen Malaysia, dan sisanya tersebar ke seluruh Indonesia. “Aku nggak sangka ada pembeli yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan aku sempat ekspor ke Belanda,” katanya.

Selain sepatu, Agnes juga mendesain sandal, dan tas. Semua hasil karyanya ini dia beri merek Kulkith. Nama itu diambil dari konsep yang diusungnya, yakni modern dan tradisional.

“Asal namanya dari “cool” dan “kid”. Karena saya dari Sunda jadi saya lafalkan kulkith,” ungkapnya.

Penjualan Kulkith hnya dilakukan secara online situs jaringan sosial Facebook, dengan nama just kulkith, karena Agnes masih sibuk menyusun tugas akhir kuliah. “Dalam waktu dekat ini website Kulkith akan segera dibuka kok,” katanya.

Agnes mengaku dia serius pada bisnisnya ini, karena selain omzetnya yang lumayan, misinya mengolaborasi modern dan tradisional pun tersampaikan dengan baik. “ Aku berharap kain-kain tradisional yang berkesan formal bisa dipakai dengan manisnya oleh kalangan muda-mudi yang biasanya kurang appreciate dgn budaya lokal,” tandasnya. (Fallin
Continue Reading

Aroma Kopi Berprofit Besar

Berwirausaha dengan modal terjangkau dan untung besar hampir dipastikan banyak diminati orang. Itulah gagasan atau cita-cita yang dianut pengusaha yang akan mengajak bermitra kepada siapa pun juga.

Kepada Warta Kota, Iwan Agustian, pemilik waralaba Semerbak Coffee Blend, mengatakan, untuk menjalankan usaha ini modal yang dibutuhkan calon pewaralaba hanya Rp 7 juta.

Biaya itu sudah termasuk konter, bahan kopi sebanyak 6 rasa untuk 120 gelas atau cup, media promosi, software keuangan, seragam, dan manual pengoperasian.

Waralaba ini ada yang membedakan dengan waralaba lainnya. Kata Iwan, selain tidak memungut biaya franchise dan biaya promosi, Semerbak Coffee Blend juga tidak memakai sistem kontrak untuk kerja sama. Pewaralaba cukup belanja kebutuhan bahan kopi di kantor pusat Semerbak Coffee Blend.

"Ini yang membedakan waralaba kami. Kami berpegang pada visi yang kami buat. Kami ingin menciptakan pengusaha baru yang ingin berwirausaha di bidang minuman. Maka dari itu tidak dipungut biaya apapun kepada mitra kami. Termasuk tidak ada kontrak fee dan tidak ada batasan bulan bahkan tahun," ujar Iwan, Selasa (1/9).

Cuma untuk mengikatnya, kata Iwan, para mitra harus belanja bahan kopi di kantor pusat. Termasuk para mitra yang berada di luar Depok atau luar Pulau Jawa, membeli bahan pembuat kopi di kantor yang berada di Jalan Nusantara, Depok itu. Untuk mitra yang berada di luar kota bahan pembuat kopi akan dikirim.

Sebelum menjadi mitra, calon mitra bisa mencicipi bahan dari pembuat kopi. Bagi yang berminat bisa membeli sample yang berisi enam bahan kopi seharga Rp 50.000. Dalam paket ini terdapat bagaimana cara membuat dan menyajikan kopi blend. Harga sample itu tidak termasuk ongkos kirim.

"Kami beri kesempatan kepada yang berminat untuk mencoba dulu sebelum memutuskan untuk bermitra dengan kami. Bila cocok, bisa diteruskan untuk bekerja sama dengan membayar uang muka 50 persen. Mengenai lokasi penjualan diserahkan langsung ke mitra. Kami tidak ikut survei. Karena yang tahu lokasi dan seluk beluk pasarnya adalah mitra," kata Iwan.

Di sisi lain, waralaba ini juga bisa memberikan nilai lebih kepada calon mitranya. Misalnya, kata Iwan, mitra atau pewaralaba sudah menekuni usaha makanan lainnya, seperti menjual bakso atau somay, tetap bisa menjadi mitra tanpa harus menutup usaha yang sudah ditekuni.

Menu Semerbak Coffe Blend adalah iced cappuccino latte, hazelnut cappuccino latte, tiramisu cappuccino latte, caramel cappuccino latte, vanila cappuccino latte, dan chocolate cappuccinno latte.

Iwan mengatakan, dalam satu hari pewaralaba yang sudah jalan rata-rata bisa menjual 200 gelas dengan harga jual dari Rp 7.000 sampai Rp 10.000/gelas, karena tergantung dari lokasi dan target konsumennya.

Selain kopi ada tawaran yang lain yaitu teh gelas Goodtea. Modalnya mulai Rp 4,5 juta hingga Rp 7,5 juta dengan masa pengembalian modal dalam waktu dua hingga tiga bulan.

Goodtea menawarkan program waralaba dalam tiga paket, yakni paket A, paket B, dan tricycle booth. Praska Gilang Ramanda, Marketing Goodtea, mengatakan, paket-paket itu mempunyai harga paket yang berbeda. Di mana paket A ditawarkan Rp 4,5 juta, paket B ditawarkan Rp 5,5 juta, dan paket tricycle booth Rp 7,5 juta.

Waralaba Goodtea juga tidak menarik biaya royalti dan fee franchise kepada mitranya. Semua keuntungan yang diraih franchisis (istilah pewaralaba Goodtea) dimiliki sepenuhnya oleh pewarlaba. (A Sunu Dirgantoro)

Semerbak CoffeeBlend
Jalan Nusantara No.27A – Samping Bank Mandiri
Depok, Jawa Barat 16421
Telepone: 021 9727 4878
No.HP: 0818 0809 8369
Email: info@semerbakcoffee.com

Continue Reading

Bisnis Waralaba Tembus Rp 81 Triliun

Semarang, Warta Kota

Perkembangan usaha waralaba di Indonesia diprediksi mengalami peningkatan cukup signifikan. Sebab, jumlah usaha waralaba saat ini mencapai seribuan usaha dengan nilai kontribusi usaha mencapai Rp 81 triliun per tahun.

Direktur Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Departemen Perdagangan RI, Dede Hidayat, di Semarang tadi mengungkapkan, kontribusi puluhan triliun tersebut terdiri atas waralaba asing Rp 38,8 triliun dan waralaba lokal sebesar Rp 45,5 triliun.
Adapun jumlah usaha waralaba yang ada mencapai 1.010 unit usaha waralaba, meliputi 260 waralaba asing dan 750 waralaba dalam negeri.

"Kami memprediksi, usaha waralaba mengalami peningkatan sekitar dua persen hingga tiga persen per tahunnya," ujarnya.

Meskipun usaha waralaba di Indonesia mengalami pertumbuhansignifikan, seribuan waralaba yang beroperasi di Indonesia itu belum seluruhnya mendaftarkan usahanya. Hal itu terlihat dari jumlah surat tanda pendaftaran waralaba (STPW) yang diterbitkan oleh Departemen Perdagangan.

"Untuk waralaba asing hanya berjumlah 101, sedangkan STPW untuk waralaba dalam negeri baru berjumlah 11," ujarnya.

Ia berharap, para pelaku bisnis usaha waralaba yang belum memiliki STPW untuk segera mengurusnya. Terlebih, pemerintah juga memberikan dorongan agar usaha waralaba tumbuh dan berkembang, khususnya waralaba nasional, karena terbukti memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia khususnya untuk penyerapan tenaga kerja, peluang kesempatan usaha dan mempercepat proses alih teknologi.

Pemerintah juga memberi kesempatan kepada pemilik usaha waralaba untuk mengikuti pameran di sejumlah daerah, termasuk di Jateng yang diselenggarakan mulai Jumat (22/5) hingga Minggu (24/5) mendatang.

Dengan berkembangnya usaha waralaba, katanya, dapat menjadi solusi bagi perekonomian Indonesia dalam menghadapi pasar global serta dapat menjadi ukuran produk nasional bagi negara-negara lain.

Terlebih lagi, pengembangan usaha dengan menggunakan sistem waralab dapat mendorong berkembangnya spesialisasi dan modernisasi usaha tradisional, serta menumbuhkan kreatifitas dalam mengembangkan inovasi usaha untuk membuka akses lebih luas bagi produk dalam negeri.

Ketua Asosiasi Franchise (waralaba) Indonesia (AFI) Anang Sukandar menambahkan, peluang bisnis usaha waralaba di Jateng masih terbuka lebar. "Kami akan mendorong pemilik usaha di Jateng menjadi usaha waralaba dengan mengadakan beberapa program hasil kerjasama antara AFI dengan Kadin Pusat tentang HAKI licency waralaba," ujarnya.

Ia mengatakan, sebagian besar bisnis usaha waralaba dikuasai oleh sektor makanan, disusul pendidikan, dan sejumlah sektor usaha yang lainnya. (Ant/tig)

Continue Reading
 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template