KOMPOSISI bumbu menjadi penentu perbedaan rasa sate. Namun, benang merahnya hanya satu: gurih! Daging yang dibakar lalu ditusuk, itulah sate. Jika dua hal tersebut dianggap kriteria utama sebuah sate, beberapa jenis sate sudah melenceng dari "pakem"-nya itu. Sebut saja sate tempe, sate telur, sate pisang, sate buah. Keempatnya bukan daging, tohbisa juga disebut sate, mungkin karena ditusuk juga. Daging yang digunakan untuk sate pun tak lagi berkutat pada ayam, sapi, atau kambing, melainkan juga domba, kerbau, bebek, kuda, kelinci, rusa, babi, siput, dan aneka seafood (ikan, udang, kerang).
Bahkan, ada pula yang ekstrem seperti sate bulus (sejenis kura-kura), buaya, ular, dan konon ada pula sate monyet. Pengolahan daging untuk sate juga tidak melulu dipotong kecil-kecil, lalu ditusuk. Beberapa jenis sate dibentuk dari daging yang digiling. Misalnya sate lilit asal Bali yang berbahan daging ikan giling, atau sate buntel Surakarta yang khas dengan kambing cincang yang dibuntel (dibungkus) lemak kambing.
Untuk urusan bakar, memang nyaris tak ada menu yang mengaku bernama sate, namun tidak dibakar. Sate buah sekalipun, tetap dibakar walau sejenak. Ngomong-ngomong soal sate buah, barang kali ini juga bisa disebut sate varian baru yang masih jarang. Di Jakarta, jenis sate ini antara lain bisa ditemukan di Jalan Veteran, dan terbilang masih baru.
Potongan buah-buahan seperti anggur, pir, dan stroberi ditusuk dengan tusukan sate biasa, lalu dibakar dan disajikan dengan lumuran gula yang diolah menjadi karamel. Kian beranak-pinaknya menu sate juga tampak dari beragamnya modifikasi bumbu sate.
Tak heran, satu jenis daging bisa menghasilkan sensasi rasa berbeda-beda jika diberi campuran bumbu yang berbeda pula. Sate maranggi yang ngetop di Purwakarta, Jawa Barat misalnya, terlahir berkat cita rasanya yang khas, bukan karena dagingnya.(Koran SI/Koran SI/nsa)
0 comments:
Posting Komentar