Senin, 19 Oktober 2009

Rumah Kucing, Modal Seiprit Untung Selangit

Memanjakan binatang piaraan sudah lumrah dilakukan. Bahkan sang pemilik kadang rela mengeluarkan uang dengan jumlah yang cukup besar. Perilaku semacam ini rupanya membuka peluang bisnis yang menggiurkan. Seperti yang dilakukan Khairil Anwar dengan memproduksi rumah kucing yang dibanderol dengan harga mencapai puluhan juta. Wiyono

Jika Anda sempat mengikuti perkembangan komunitas pehobi binatang piaraan –khususnya anjing dan kucing--, pasti akan berdecak kagum melihat perkembangannya dalam setahun terakhir ini. Bahkan sampai-sampai Khairil Anwar, Presiden Kittens Park --perkumpulan pecinta kucing piaraan yang dibentuk tahun 2007 dan sekarang beranggotakan sekitar 1800 orang—mengaku sulit untuk memperbaharui data. Pasalnya, dalam waktu relatif singkat jumlah pemilik kucing ras meningkat dari ratusan ribu menjadi jutaan orang. Jika ingin membuktikannya, Anda bisa datang pada setiap ajang kontes binatang piaraan, yang umumnya diikuti hingga ratusan peserta.

Bisnis yang berhubungan dengan hobi kucing pun ikut terdongkrak. Anwar, mengibaratkan bisnis ini laiknya bisnis narkoba lantaran jumlah uang yang berputar luar biasa besar. “Tadi saya mencari yang gesekannya sedikit seperti rumah kucing, distributor suplai vitamin, alat pengering bulu kucing. Jadi mereka tidak merasa saya mengambil pasar mereka,” tukasnya. Coba Anda bandingkan. Harga shampoo yang biasa kita pakai paling-paling hanya Rp10 ribu-Rp20 ribu. Tapi shampoo untuk kucing yang merupakan produk impor harganya mencapai Rp100 ribu-Rp500 ribu. Dengan harga semahal itu pun orang masih mau membeli.

Belum lagi harga pakan kucing yang mencapai Rp700 ribu/sak. Padahal pemilik kucing membutuhkan rata-rata lebih dari tiga sak dalam sebulan. Lantaran, besarnya potensi bisnis yang ditawarkan, tak heran jika akhirnya muncul dua asosiasi besar yang saling bersaing yakni ICA (Indonesian Cat Asociation) dan CFI (Cat Fancy Indonesia). Meski awalnya hanya terdapat satu asosiasi yakni CFI. Persaingan ini dipicu oleh perbedaan kepentingan, salah satunya faktor ekonomi.

Hobi kucing sejatinya sudah Anwar tekuni sekitar 10 tahun lalu. Dari yang awalnya hanya sekedar suka, akhirnya berubah begitu melihat peluang bisnis yang bisa digarap. Ia lantas amendirikan cattery atau tempat jual-beli kucing yang diberi label Kittens Park. Semakin lama bisnis kucing dan turunannya ternyata makin menyita perhatian Anwar. Bahkan jabatan sebagai kepala produksi sebuah perusahaan multimedia dan wakil direktur I bidang akademik pada sekolah tinggi multimedia juga rela ia tinggalkan. Karena Kittens Park kemudian dipakai menjadi nama perkumpulan, Anwar lalu mengubah bendera usahanya menjadi Rumah Kucing.

Bapak empat putra ini menceritakan bisnis yang sekarang dijalani nyaris dibangun nyaris tanpa modal. Ia hanya memanfaatkan bahan-bahan sisa. Diantaranya menggunakan bahan triplek bekas dengan membongkar salah satu tempat dari warnet miliknya. Sementara bahan kayu diperolehnya dari pohon disekitar kompleksnya yang telah ditebang dan hendak dibakar. Jadi mayoritas bahan berasal dari barang tidak terpakai. Setelah produknya laku, uangnya dijadikan modal awal untuk terus diputar.

Usaha yang dibesutnya tadinya berjalan berjalan mulus. Pria kelahiran 1974 di Jakarta itu bahkan telah mempekerjakan sekitar sepuluh orang untuk produksi dan memasarkan rumah kucing ke berbagai pet shop. Tetapi, ketika mulai banyak produk impor masuk ke pasaran, khususnya buatan Cina, rumah kucing buatannya kalah bersaing. Pasalnya, rumah kucing buatannya yang berbahan kayu dijual dengan harga Rp2 juta-Rp3 juta per unit. Sementara hanrga produk dari Cina tidak sampai seperlimanya.

“Pasar lokal sangat sensitif dengan harga. Dan konsumen lebih tergiur dengan embel-embel kata impor,” ujar Anwar sedikit mengeluh. Padahal produk bikinannya jauh sekali kualitasnya jika dibandingkan produk impor. Ia menggunakan kayu utuh sedangkan pesaingnya menggunakan bahan kertas karton tebal yang digulung membentuk tabung. Konsumen baru menyadari ketika hendak mencuci karpet yang kotor yang tiba-tiba patah begitu saja. Tapi repotnya, pasar lebih cenderung memilih bentuk dan harga ketmbang kualitas.

http://www.majalahpengusaha.com/content/view/1033/28/

0 comments:

Posting Komentar

 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template