Bandung, Warta Kota
Menguatnya tuntutan masyarakat agar para pelaku usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, mendorong banyak pihak menyadari bahwa kegiatan bisnis juga harus berorientasi sosial. Para pelaku bisnis pun didorong untuk ikut menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan hidup.
Sebaliknya kini juga mulai berkembang jenis kewirausahaan sosial. Para pelakunya melakukan aktivitas sebagai upaya menyelesaikan masalah sosial, termasuk masalah lingkungan hidup, namun mereka mampu memberdayakan komunitas melalui kegiatan yang memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut British Council Indonesia (BCI), di Inggris, perkembangan kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship sudah mencapai titik keberhasilan yang siginifikan. Setidaknya terdapat 60.000 organisasi melakukan kegiatan kewirausahaan sosial. Total pendapatannya pun luar biasa, yakni mencapai sekitar 27 miliar poundsterling atau lima persen dari total bisnis di Inggris. Mereka mampu memberikan kontribusi 8,4 miliar poundsterling terhadap perekonomian Inggris setiap tahunnya.
Melihat pentingnya kewirausahaan sosial ini, BCI ingin menghubungkan pengalaman perkembangan kewirausahaan sosial di Inggris dengan kewirausahaan yang sudah berkembang di Indonesia. Untuk itu BCI membuka peluang bagi siapa pun yang memiliki ide cemerlang untuk memecahkan masalah sosial, dengan menggunakan pendekatan kewirausahaan dan melibatkan pemberdayaan komunitas.
Menggandeng Arthur Guiness Fund (AGF), pada tahun 2010 ini BCI membuka kompetisi Community Entrepreneurs Challenge (CEC) bagi para wirausahawan pemula maupun setengah mapan.
"Ini adalah salah satu jembatan bagi para wirausahawan sosial yang sangat kesulitan mendapat pendanaan dari lembaga keuangan," kata Project Manager British Council, Fajar Anugerah dalam acara Peluncuran Kompetisi Program CEC di Aston Hotel, Jalan Braga Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/3)
Kompetisi yang dapat diikuti oleh kelompok mana pun ini menyediakan total dana hibah hingga Rp 600 juta untuk para pemenangnya. Perinciannya Rp 400 juta akan dibagi secara proporsional kepada 3-5 wirausahawan pemula. Sisanya akan dibagikan secara proporsional juga kepada 1-3 wirausahawan semi mapan.
Pendaftarannya berlangsung dari 9 April hingga 31 Mei 2010. Pengumuman pemenang akan dilaskanakan pada akhir Agustus 2010.
Fajar menegaskan banyaknya segi positif yang dapat dibidik dan tercipta dari jenis kewirausahaan ini. "Kalau mau dikonvesikan, dibidik dari segi social return on investment, environment return on investment dan economical return on investment, kewirausahaan sosial ini memberikan nilai tak terhitung," ujar Fajar.
Fajar mengakui adanya kendala yang menyebabkan belum berkembangnya konsep kewirausahaan sosial di Indonesia. Banyak lembaga, termasuk lembaga pendanaan belum melihat besarnya sumbangan yang dapat diberikan oleh kegiatan ini.
Namun BCI boleh bergembira. Ashoka Indonesia, lembaga independen yang memfokuskan aktivitasnya pada kewirausahaan sosial mendukung penuh kompetisi ini.
Menurut Staf Ashoka Indonesia di Bidang Young Changemakers, Agni Yoga Airlangga, pada dasarnya Indonesia mempunyai peluang besar untuk mengembangkan konsep kewirausahaan ini. Namun senada dengan Fajar, Agni juga melihat sejumlah tantangan, di antaranya masih kuatnya anggapan pada banyak pihak termasuk pemerintah dan lembaga pembiayaan lantaran model dan sistem manajemen dari konsep ini belum mapan.
"Padahal aktivitas kewirausaan sosial ini sangat potensial mencetak wirausaha yang bisa memberdayakan masyarakat sekitar," katanya
Untuk mengembangkannya, kata Agni, konsep yang diterapkan harus inovatif dan bisa direplikasi oleh kelompok lain. "Pada akhirnya kelompok uaha seperti ini diharapkan bisa bankable bahkan sustainable nantinya," katanya. (Willy Pramudya)
Menguatnya tuntutan masyarakat agar para pelaku usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, mendorong banyak pihak menyadari bahwa kegiatan bisnis juga harus berorientasi sosial. Para pelaku bisnis pun didorong untuk ikut menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan hidup.
Sebaliknya kini juga mulai berkembang jenis kewirausahaan sosial. Para pelakunya melakukan aktivitas sebagai upaya menyelesaikan masalah sosial, termasuk masalah lingkungan hidup, namun mereka mampu memberdayakan komunitas melalui kegiatan yang memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut British Council Indonesia (BCI), di Inggris, perkembangan kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship sudah mencapai titik keberhasilan yang siginifikan. Setidaknya terdapat 60.000 organisasi melakukan kegiatan kewirausahaan sosial. Total pendapatannya pun luar biasa, yakni mencapai sekitar 27 miliar poundsterling atau lima persen dari total bisnis di Inggris. Mereka mampu memberikan kontribusi 8,4 miliar poundsterling terhadap perekonomian Inggris setiap tahunnya.
Melihat pentingnya kewirausahaan sosial ini, BCI ingin menghubungkan pengalaman perkembangan kewirausahaan sosial di Inggris dengan kewirausahaan yang sudah berkembang di Indonesia. Untuk itu BCI membuka peluang bagi siapa pun yang memiliki ide cemerlang untuk memecahkan masalah sosial, dengan menggunakan pendekatan kewirausahaan dan melibatkan pemberdayaan komunitas.
Menggandeng Arthur Guiness Fund (AGF), pada tahun 2010 ini BCI membuka kompetisi Community Entrepreneurs Challenge (CEC) bagi para wirausahawan pemula maupun setengah mapan.
"Ini adalah salah satu jembatan bagi para wirausahawan sosial yang sangat kesulitan mendapat pendanaan dari lembaga keuangan," kata Project Manager British Council, Fajar Anugerah dalam acara Peluncuran Kompetisi Program CEC di Aston Hotel, Jalan Braga Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/3)
Kompetisi yang dapat diikuti oleh kelompok mana pun ini menyediakan total dana hibah hingga Rp 600 juta untuk para pemenangnya. Perinciannya Rp 400 juta akan dibagi secara proporsional kepada 3-5 wirausahawan pemula. Sisanya akan dibagikan secara proporsional juga kepada 1-3 wirausahawan semi mapan.
Pendaftarannya berlangsung dari 9 April hingga 31 Mei 2010. Pengumuman pemenang akan dilaskanakan pada akhir Agustus 2010.
Fajar menegaskan banyaknya segi positif yang dapat dibidik dan tercipta dari jenis kewirausahaan ini. "Kalau mau dikonvesikan, dibidik dari segi social return on investment, environment return on investment dan economical return on investment, kewirausahaan sosial ini memberikan nilai tak terhitung," ujar Fajar.
Fajar mengakui adanya kendala yang menyebabkan belum berkembangnya konsep kewirausahaan sosial di Indonesia. Banyak lembaga, termasuk lembaga pendanaan belum melihat besarnya sumbangan yang dapat diberikan oleh kegiatan ini.
Namun BCI boleh bergembira. Ashoka Indonesia, lembaga independen yang memfokuskan aktivitasnya pada kewirausahaan sosial mendukung penuh kompetisi ini.
Menurut Staf Ashoka Indonesia di Bidang Young Changemakers, Agni Yoga Airlangga, pada dasarnya Indonesia mempunyai peluang besar untuk mengembangkan konsep kewirausahaan ini. Namun senada dengan Fajar, Agni juga melihat sejumlah tantangan, di antaranya masih kuatnya anggapan pada banyak pihak termasuk pemerintah dan lembaga pembiayaan lantaran model dan sistem manajemen dari konsep ini belum mapan.
"Padahal aktivitas kewirausaan sosial ini sangat potensial mencetak wirausaha yang bisa memberdayakan masyarakat sekitar," katanya
Untuk mengembangkannya, kata Agni, konsep yang diterapkan harus inovatif dan bisa direplikasi oleh kelompok lain. "Pada akhirnya kelompok uaha seperti ini diharapkan bisa bankable bahkan sustainable nantinya," katanya. (Willy Pramudya)

0 comments:
Posting Komentar