Jumat, 26 Maret 2010

Karena Manik-manik, Wahida ke Berlin

WAHIDA Anwar (38) boleh jadi satu dari sekian pengrajin manik-manik yang beruntung hingga bisa pergi ke Berlin, Jerman, mempromosikan keunggulan kerajinan tangan bangsa Indonesia.
"Ya jelas saja dong, ada kebanggaan! Apalagi saya hanyalah pengrajin manik-manik, yang lainnya ke Berlin pasti levelnya para pejabat pemerintah atau mungkin direktur perusahaan," kata Wahida Anwar menanggapi Warta Kota ketika mengikuti acara appreciation night "Bersuka Ria di Kapuas, Bersenang-senang di Bunaken" di pool side Hotel Santika Premiere Jakarta, Jalan Aipda KS Tubun, Jakarta Barat, belum lama ini.
Di acara appreciation night itu, Wahida menggelar lapak berukuran 2x3 meter. Di atas lapaknya penuh dengan sejumlah kerajinan manik-manik bernuansa Kalimantan Barat dan Sulawesi, yang siap dijual. Salah satunya anyaman manik-manik yang dipakai sebagai jaket, yang dinamakan Wahida sebagai kandore.
Selain itu, ada sejumlah asoseris berupa gelang, pita, kalung, topi. bros, dan cincin. Sebagian besar asoseris ini memanfaatkan manik-manik sebagai bahan bakunya. Menurut Wahida, kerajinannya ini dikenal luas di Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.
Selama ini manik-manik dikenal sebagai benda warna-warni serbaguna yang dapat digunakan untuk membuat perhiasan yang indah atau menambah kilau dan glamor beragam benda. Manik-manik dibuat pabrikan berbentuk bulat kecil dan berwarna-warni. Ia mirip kelereng tapi lebih kecil lagi dan di tengahnya terdapat lubang. Lubang ini untuk memasukkan benang atau "kenur". Jika manik-manik dirangkai sedemikian rupa satu sama lainnya, maka ia akan menjadi suatu bentuk kerajinan tangan yang unik dan khas.
Ketika ditemui, di depan Wahida ada satu piring mangkuk berisi sejumlah manik-manik. Alumnus STIE Sumber Daya Manusia Makassar ini tengah menyusun manik-manik tersebut untuk dijadikan suatu barang asesoris. Dengan bekal ilmunya, ia berinovasi menghasilkan sebuah karya kerajinan tangan, yang disesuaikan dengan tren masa kini.
Wahida mengakui bahwa ia berusaha mendisain sendiri kerajinannya. "Saya mendisain sendiri kerajinan ini, yang orang lain tidak melakukannya. Inilah kebanggaan saya," kata Wahida yang kini tengah menyelesaikan S2-nya di satu universitas swasta di Jalan TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Menyangkut harga asesoris hasil kerajinannya, Wahida mengaku, sangat bervariasi. "Harganya mulai Rp 25.000 sampai Rp 1,5 juta," tutur Wahida, sambil menunjukkan satu kandore dengan manik-manik penuh warna harganya Rp 1,5 juta. Ia berpromosi bahwa kerajinan tangannya dapat dibeli di anjungan Kalimantan Barat dan anjungan Sulawesi Selatan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). (apr)wartakotalive.com

0 comments:

Posting Komentar

 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template