Tampilkan postingan dengan label Nah Ini Dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nah Ini Dia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2009

BIAR IDIOT, YANG PENTING RASANYA BUNG!

SEBAGAI tukang sampah, Munari, 56, ternyata orangnya openan banget. Lihat janda pekok (idiot) sendirian, terangsang juga nafsunya untuk memperkosa. Tentu saja keluarganya tak terima. Tapi ketika ditangkap dan diperisa di Polres Kedaton (Lampung) jawabnya enteng saja. “Biar idiot tapi rasanya Bung!”

Iman dengan dorongan “si imin” memang sering berseberangan. Iman yang selalu didampingi malaikat, senantiaja mengajak kepada kebenaran. Sebaliknya “si imin” yang suka mengumbar nafsu badaniah, selalu berdekatan dengan setan. Di sinilah iman sering kalah, apa lagi jika setan penggodanya lulusan S-3 dari Amerika. Akhirnya “si imin” lepas kendali, menabrak apa saja tak peduli mana yang halal dan mana yang haram. Yang penting nikmat mupangat!

Tukang sampah Munari, awalnya merupakan lelali beriman juga. Ukurannya adalah, meski profesi memungut sampah kurang bergengsi dan penghasilannya kecil, dia menjalani dengan tekun. Dia tak mau pekerjaan yang enteng, tapi duitya banyak, jadi penjahat misalnya. Sebab dia punya alasan untuk itu. “Makanan yang halal itu enak dimakan, bisa jadi daging dan berkah bagi keluarga,” begitu Munari punya prinsip.

Iman Munari memang sudah lumayan. Tapi Allah berfirman: jangan mengaku seseorang beriman bila belum menerima ujian-Nya. Nah, ujian itu pun hadir dengan beraneka bentuk. Ada yang berupa kenikmatan, banyak pula yang berupa penderitaan beruntun macam Nabi Ayub. Nah, kalau Munari langsung bernafsu begitu melihat janda bahenol tapi idiot, bentuk ujian apa pula ini? Dia sedang diuji, atau tengah diuja (dimanjakan)?Apa bentuk ujian tersebut, tak tahulah. Yang jelas Munari jadi semakin rajin memungut sampah warga di Desa Jagabaya Kecamatan Kedaton (Bandar Lampung). Terutama di gang rumah Mbok Kamini. Sebab di sini ada “pemandangan” menawan, yakni kemunculan janda Lastri, 31, anak Mbok Kamini, di setiap sore. Bisa dipastikan, sekita jam-jam 17.00 dia pasti duduk bengong di teras rumah. Entah apa yang dipikirkan, tak pernah jelas. Namanya juga orang idiot.

Tatapan dan pandangan Lastri memang kosong, tapi bodinya meck, sungguh sekel nan cemekel (enak dipegang). Karenanya setiap melihat si janda pekok tersebut, otak Munari jadi ngeres. Pertikaian dalam batin pun terjadi. Hati nurani yang didampingi malaikat selalu mengingatkan jangan berbuat aniaya di muka bumi. Tapi nafsunya yang didukung setan selalu mengajak kerusakan. “Sikat saja Bleh, toh orang pekok ini. Pasti takkan mengadu,” kata setan membujuk.

Iman pun kemudian terdesak nafsu. Tanpa memikirkan apa resikonya nanti, pas rumah si janda sepi, Munari segera masuk ke dalam. Lastri diseret ke kamar dan langsung digumuli. Tapi belum juga terpuaskan, ketahuan anak si janda. Gadis usia 10 tahunan itu teriak-teriak menyaksikan ibunya ditindih si tukang sampah. Dengan langkah sigap Munari ambil langkah seribu. Gerobak sampah ditinggal begitu saja.

Keluarga Mbok Kamini tidak terima. Tapi karena kasus ini merupakan hal sensitip dan memalukan, dia mencoba menyelesaikan secara damai. Artinya, tanpa mengadu pada keluarga besar Munari, perkara ini akan dianggap selesai bila tukang sampah itu bersedia memberikan sejumlah uang ganti rugi. “Kariermu sebagai tukang smapah takkan terhenti karenanya,” kata Mbok Kamini yang sudah tahu duit..

Akan tetapi ternyata Munari hanya mengulur-ngulur waktu. Katanya sanggup memberi sejumlah uang, tapi tak kunjung terwujud. Lama-lama keluarga Mbok Kamini kesal juga, sehingga melaporkan kasus ini ke Polsek Kedaton. Istri dan anak-anak Munari terkaget-kaget saat melihat suaminya digelandang polisi dengan tuduhan perkosaan. Di Polsek pun polisi sempat heran atas sikap tukang sampah yang ternyata “si raja tega”. “Biar idiot, tapi rasanya Bung!” jawab Munari santai.

Huuuh, dasar tukang sampah, orang idiot pun dipulung! (LP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/nah-ini-dia/2009/10/12/biar-idiot-yang-penting-rasanya-bung
Continue Reading

CEMBURUNYA SUAMI BARU

Anak kecil memang susah diajak bohong. Maka ketika ayah tirinya bertanya ibumu ke mana, Siti, 5, menjawab polos: pergi nemui bapak! Kontan Danu, 37, naik pitam bin cemburu. Begitu Marni, 29, istrinya pulang, langsung ditodong dengan senjata tajam. Untung saja warga berhasil melerai, sehingga ibu muda ini tak perlu mati muda.

Tak ada undang-undang yang melarang seorang wanita menemui bekas suami. Cuma semuanya harus berada pada koridor yang benar, jangan sampai melanggar batas-batas kepatutan. Apa lagi ketika si wanita sudah punya pendamping lagi, jagalah perasaan suami barunya. Maka sebaiknya suami diajak serta, sekaligus diperkenalkan. Tapi jangan pula terbersit maksud mau membanding-bandingkan, apa lagi lalu bilang: “Nih lho suami baruku, cakep kan? Nggak kaya sampeyan, macam sopir odong-odong!”

Istri Danu memang tak sampai sesadis itu. Cuma ketika ada keperluan ketemu bekas suaminya, Marni tak berani berterus terang pada Danu. Bahkan membohonginya pula. Tujuannya ketemu Badrun, 39, dia bilang pada suami bahwa mau ke rumah teman di Simo. Lebih celakanya lagi, Marni pada Siti anak semata wayangnya sempat-sempatnya berpesan: jangan bilang-bilang kalau ibu mau ketemu bapakmu, ya!

Kesannya, setelah menjadi istri Danu, ada ruang-ruang kebebasan Marni yang serta merta hilang. Dulu ketika menjadi istri Badrun, dia masih bisa nangga (bertandang ke rumah tetangga) untuk nyekak atau nyatur (bergunjing). Kini, setelah menjadi nyonya Danu, dia nyaris tak boleh pergi ke mana-mana. Harus selalu di rumah dan siap melayani suami dalam segala lini. “Penak kowe dadi bojoku, ming tak kon mamah karo mlumah (enak kan jadi istriku, hanya kusuruh makan dan melayani di ranjang),” begitu pernah Danu berujar.

Ah, lelaki macam Danu memang aneh. Masak istri diproteksi sedemikian rupa, padahal dia menikahi Marni pakai ajian pengiritan. Dengan alasan belum siap biaya, pernikahan itu hanya “didaftarkan” pada kiyai alias siri saja. Jadi ibaratnya motor, Danu – Marni hanya menggunakan SIM sementara. Alasan Danu, biar SIM sementara tapi dia sudah bebas dan halal “menaiki” motor Marni RX King yang tarikannya masih sangat kuat dan nikmat itu.

Herannya lagi, katanya bini hanya disuruh mamah-mlumah, tapi Danu tak bisa membiayai keluarganya secara optimal. Nah, untuk menutupi kekurangannya tersebut, diam-diam Marni suka datang ke bekas suami dengan alasan minta duit baut Siti anaknya. Entah pemberian itu murni demi anak, atau ada “take and give” lainnya, tak tahulah. Yang pasti, karena takut ketahuan, pada Siti kemarin dulu dia sempat wanti-wanti. “Aku mau nemui bapakmu, tapi jangan bilang Mas Danu ya,” kata Marni.

Sial rupanya bagi wanita warga Benowo, Surabaya. Baru sejam lalu dia pesen pada putrinya, Siti yang tak diajak keburu ditanya oleh ayah tirinya. Sebagai anak kecil yang jujur, bocah itu langsung saja ngoceh bla bla bla. Tentu saja Danu kaget. Lho katanya tadi pamit mau ke rumah teman di Simo, ternyata kok malah pergi ke Mojokerto menemui bekas suami diam-diam. Rasa curiga pun berkembang biak. Jangan-jangan Marni mau “back to basic”. Langsung saja Danu dibakar cemburu.

Antara cemburu dan benci kini berkecamuk. Danu segera minum bir banyak-banyak, untuk memperkuat mental. Tekadnya sudah bulat, Marni harus dimatikan, tak perlu menyaksikan pengumuman mentri Kabinet Indonesia Bersatu-II. Dan benar saja, dengan wajah merah dan napas bau bir, dia menyambut kepulangan istrinya dengan todongan pisau. Marni tentu saja ketakutan, sebelum senjata tajam itu diayunkan, dia berteriak minta tolong. Warga berdatangan menolong, sementara Danu dilaporkan ke Polsek Benowo untuk segera ditangkap.

Yang gebleg memang ibunya, masak anak diajari bohong. (JP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/10/16/cemburunya-suami-baru
Continue Reading
 

Pengikut

Entri Populer

Iklan

Hosting Indonesia

News Indonesia Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template