Tepung beras dan kelapa (baik dalam bentuk santan ataupun kelapa parut) adalah dua komponen utama serabi. Untuk kue serabi jenis tertentu, ada pula yang menambahkan tepung terigu, gula, atau garam untuk mendapatkan rasa asin-gurih.
Adonan serabi yang sudah jadi akan dicetak dalam tungku pemanggang dari tanah liat. Bentuknya bundar, mirip "wajan" kecil. Proses pemanggangan menyebabkan kue serabi gosong di bagian bawah, namun justru itulah yang menimbulkan cita rasa dan aroma khas kue serabi. Sungguh nikmat disantap selagi hangat.
"Saat proses pemanggangan, arang harus dijaga supaya tetap menyala dan panasnya konstan. Bara api dari kayu bakar biasanya lebih bagus untuk memanggang serabi, aroma yang keluar pun lebih sedap," ujar pemilik Strawberry Cafe Jakarta, Putra Priyadi.
Berdasarkan penyajiannya, serabi dibedakan atas serabi kuah dan serabi tanpa kuah. Kuah yang dimaksud umumnya berbahan dasar kelapa yang diolah menjadi santan.
Di beberapa daerah, kuah serabi ini disebut kinca. Kinca itu sendiri dibedakan lagi, antara lain kinca Betawi yang merupakan campuran santan dan gula merah, serta kinca Jawa Barat yang menggunakan kuah kelapa parut.
Beralih ke serabi tanpa kuah, serabi Solo yang manis gurih adalah salah satu contoh yang tak kalah nikmat. Bentuknya bundar pipih dengan bagian tengah menggelembung. Hampir setipe dengan "serabi Jakarta" alias kue ape yang berciri khas warna hijau daun pandan.
Menurut sumber yang diperoleh dari situs Wikipedia, kata serabi berasal dari bahasa Sunda, surabi. Surabi klasik awalnya tidak diberi tambahan apa pun selain bahan dasar (tepung beras dan kelapa) yang ditambah garam atau gula.Seiring pergeseran zaman dan perubahan selera masyarakat, terciptalah serabi aneka rasa. Ada sosis, jamur, keju, cokelat, hingga es krim. Hmm... yummy!(Koran SI/Koran SI/nsa)

0 comments:
Posting Komentar